Oleh: cici | September 12, 2007

Bahagianya Punya Tujuan Hidup

Tahu rasanya ketika mati ? mati suri ? atau sekedar memikirkan mati ?. Kematian, hal yang tidak bisa tak dihindari. Bisa saja memperkecil resiko kematian, tapi kalau mati ya mati saja. Banyaknya pemikiran seperti ini, meyakinkan saya setidaknya, bahwa orang yang memikirkan kematian (mau rasanya, atau apanyalah) tiba-tiba merasa tidak bahagia atau tiba-tiba tidak punya semangat hidup.

Semua yang bersemangat pasti memiliki tujuan besar. Bagi segelintir orang, tujuan hidup mereka adalah bertahan hidup. Tetap makan, tetap berlindung, tetap bergiat, tetap menyalurkan nafsu dan tetap punya teman. Keadaan yang berkelanjutan tetap ini pada segelintir mayoritas orang di Jakarta (rakyat miskin) tidak akan berubah menjadi lebih baik lagi. Apa sebab?

Kebahagiaan adalah suatu ekspresi yang merupakan hasil reaksi kimia dari syaraf otak ke seluruh tubuh dengan timbulnya perasaan senang dan bibir tersenyum. Kebahagiaan disinyalir merupakan sesuatu yang bertahan lebih dari satu bulan atau bahkan satu tahun. Kebahagiaan mengandung ketenangan dan kedamaian. Menikah, memiliki pekerjaan yang sesuai dengan keinginan, memiliki bayi, memiliki keponakan dan lainnya. Membuat banyak orang menjadi pemburu kebahagiaan.

Kebahagiaan secara sederhana mengandung kekuatan tujuan besar dan mulia. Tujuan besar mengindikasikan keinginan kuat dan perjuangan sedangkan mulia, memiliki manfaat untuk banyak orang.

Nah, rakyat miskin di Jakarta bisa bilang bahwa mereka bahagia dengan hidup mereka yang tetap terus tadi. Menurut saya, kebahagiaan datang dari dalam diri pribadi dimana merupakan perwujudan tercapainya tujuan besar dan mulia yang mereka punya. Dalam Al-Qur’an juga tersurat bahwa apabila ada keinginan, berusahalah yang terbaik dan selanjutnya pasrah dan ikhlas demi tercapainya kebahagiaan.

Nah, kemarin malam, tujuan besar dan mulia hidup saya sudah mulai terlihat. Saya sendiri pernah memikirkan kematian, namun ketika memikirkan tujuan hidup yang besar dan mulia kemarin ini, pikiran itu pergi entah kemana. Diselimuti oleh semangat ‘45 dan tak sabar untuk meraih kebahagiaan, saya siap menjalani proses mencapai tujuan itu.

Rumus sederhana :

Merasa ingin mati? –> coba susun kembali potongan hidup Anda –> tetapkan keinginan terbesar (caranya bisa dengan melihat dunia lain, bertemu dengan teman, berimajinasi apapun) –> memformulasikannya ke dalam hitungan uang (ini penting untuk menganalisa kemampuan) –> menimbang dan memutuskan dan walah! Anda punya tujuan hidup.

NB : Tujuan hidup yang benar adalah membuat Anda bersemangat dan memiliki kebaikan untuk orang banyak. Set pikiran Anda menjadi sederhana, terbuka dengan dunia luar dan siap menerima apapun.

GoodLuck! 

Oya, jangan lupa punya prinsip supaya punya determinasi diri. Jangan langsung menelan isi tulisan ini. Hehehe… I love You all, mate!

Oleh: cici | September 5, 2007

Hello world!

Yap, hello dunia!

Katanya WordPress bisa diakses oleh google easilly. Nah, dengan begitu, gue punya tujuan besar supaya blog gue bisa dibaca banyak orang dan memberikan manfaat. Tidak cuma narsisme tapi romantisme sekaligus pragmatisme.

Kata Fahrul, teman gue. Dunia ini sudah terlanjur pragmatis. Gue sendiri bingung mendefinisikan pragmatis secara sederhana. Tapi romantisme semacam sangat familiar tapi ternyata ga sefamiliar itu. Pragmatis sederhananya adalah mempunyai tujuan, namun ketika tujuan itu terhambat oleh banyak hal, maka demi kepentingan orang banyak, tujuan itu dibatalkan. Sedangkan romantis, seseorang akan mencapai dengan cara apapun tujuannya. Romantis lebih konsisten dan punya determinasi kuat, tapi tak memedulikan sekelilingnya hanya ia dan yang bersangkutan saja.

Tanpa panjang lebar sampai dower… terima kasih sudah baca, terima kasih atas komentarnya yang diharapkan bukan saja basa-basi tapi memiliki makna untuk personal kita berdua. Saya dan Anda…

Kategori